Inovasi

Peneliti Kembangkan Kacamata Pintar Tanpa Baterai yang Memanfaatkan Energi Kedipan Mata

Perkembangan teknologi perangkat wearable kembali menghadirkan inovasi menarik melalui kacamata pintar tanpa baterai yang mampu memanfaatkan energi dari kedipan mata dan gerakan wajah manusia. Tim peneliti Northwestern University mengembangkan perangkat bernama GlassTENG, yaitu kacamata dengan sensor khusus yang menghasilkan sinyal listrik dari aktivitas alami wajah. Teknologi ini memungkinkan pemantauan kedipan, gerakan rahang, hingga denyut pembuluh darah tanpa membutuhkan baterai untuk mengoperasikan sensor utamanya. Penelitian yang diumumkan pada Oktober 2026 tersebut membuka peluang pengembangan perangkat kesehatan pintar yang lebih ringan, hemat energi, dan nyaman digunakan sepanjang hari tanpa harus bergantung pada pengisian daya sensor secara berkala.

Teknologi Kacamata Pintar Tanpa Baterai yang Dikembangkan Para Peneliti

GlassTENG dikembangkan sebagai perangkat wearable berbentuk kacamata yang memanfaatkan energi mekanis dari gerakan wajah. Penelitian tersebut berada di bawah kepemimpinan Nivedita Arora, bersama Profesor Nabil Alshurafa dan sejumlah mahasiswa peneliti. Tidak seperti sebagian besar perangkat pemantau kesehatan elektronik, GlassTENG mengandalkan perubahan mekanis pada wajah untuk melakukan pendeteksian. Pendekatan tersebut membantu menghadirkan sistem pengindraan hemat daya. Melalui rancangan inovatif ini, aksesori penglihatan dapat dikembangkan sebagai sensor aktivitas tubuh.

Kelompok pengembang GlassTENG menjelaskan kemampuan prototipe melalui laporan akademik berjudul GlassTENG: Self-Powered Triboelectric Nanogenerator Based Sensing of Pulse, Jaw, and Upper Facial Activity from Everyday Glasses. Penelitian ini dipresentasikan dalam rangkaian konferensi UbiComp/ISWC 2026 yang menampilkan perkembangan sistem komputasi dan perangkat yang dikenakan. Fokus penting dari penelitian tersebut adalah menghadirkan pemantauan aktivitas wajah tanpa sensor berukuran besar. Kelompok ilmuwan menyadari bahwa banyak pengguna terbiasa mengenakan kacamata dalam aktivitas harian. Oleh karena itu, penambahan kemampuan pemantauan pada kacamata dapat menjadi solusi praktis.

Cara Kerja Teknologi Kedipan Mata sebagai Sumber Energi GlassTENG

Teknologi inti pada kacamata pintar tersebut adalah triboelectric nanogenerator atau TENG, yaitu perangkat yang memanfaatkan efek triboelektrik. Cara pengoperasiannya menggunakan efek listrik yang muncul ketika bahan bersentuhan. Apabila dua material mengalami siklus sentuhan dan pemisahan, proses perpindahan muatan menimbulkan sinyal listrik. Dalam rancangan kacamata tersebut, aktivitas wajah menyebabkan perubahan kontak antarmaterial. Aktivitas kontak dan pemisahan itu menghasilkan sinyal listrik yang dapat dianalisis. Berkat prinsip ini, gerakan wajah menjadi sumber informasi sekaligus energi sensor.

Keunggulan dari pendekatan triboelektrik tersebut berasal dari penggunaan energi mekanis yang tersedia secara alami. Saat kelopak mata bergerak, lapisan material mengalami deformasi yang memicu sinyal listrik. Gerakan lain seperti menggerakkan bagian dahi, mengunyah makanan, dan mengepalkan rahang juga menghasilkan pola listrik yang berbeda. Walaupun sensor bekerja tanpa baterai, pemrosesan data dan komunikasi nirkabel tetap memerlukan pengelolaan energi. Karakteristik teknis tersebut menjelaskan bahwa pengindraan mandiri tidak otomatis berarti seluruh fungsi elektronik bebas kebutuhan daya.

Tiga Sensor Fleksibel Membaca Aktivitas Wajah dan Denyut Pembuluh Darah

Agar berbagai gerakan wajah dapat terdeteksi, tim penelitian memasang tiga sensor tipis pada lokasi strategis di sekitar bingkai kacamata. Komponen pengindra pertama dipasang pada bagian tengah bingkai dekat hidung untuk membaca kedipan, gerakan alis, dan denyut pembuluh darah. Pendeteksi lainnya dipasang di bagian rangka yang berdekatan dengan pelipis sehingga dapat menangkap gerakan rahang dan denyut arteri temporal. Sebagai pelengkap sistem, sensor ketiga berada dekat telinga untuk mendeteksi tekanan akibat gerakan rahang. Integrasi beberapa titik pengindraan menyediakan informasi mekanis dari beberapa area tubuh.

Dalam eksperimen yang dilakukan, setiap aktivitas menghasilkan tegangan dengan karakteristik berbeda. Pulsa arteri yang terdeteksi memunculkan tegangan dalam kisaran 50 sampai 100 milivolt. Untuk perubahan gerakan yang lebih jelas, kedipan mata serta gerakan alis menghasilkan sekitar 200 hingga 500 milivolt. Tekanan mekanis lebih besar dari otot rahang dapat memunculkan sinyal hingga 1,5 volt. Perbedaan nilai tersebut membantu sistem mengenali jenis aktivitas. Perlu diperhatikan bahwa, tegangan yang dihasilkan tidak sama dengan jumlah energi yang tersedia.

Penelitian Sensor Tanpa Baterai Menghasilkan Tingkat Akurasi Menjanjikan

Untuk mengevaluasi kemampuan GlassTENG, para ilmuwan melibatkan 20 peserta. Setiap peserta melakukan enam kategori gerakan wajah, yaitu mengedipkan mata, menaikkan alis, mengepalkan rahang, mengetuk gigi, mengunyah makanan, serta berbicara. Ketika percobaan dilakukan, sensor mencatat sinyal listrik dari gerakan peserta. Informasi yang diperoleh selanjutnya diproses melalui metode pembelajaran mesin. Tujuannya adalah mengidentifikasi karakteristik listrik masing-masing gerakan.

Hasil penelitian memperlihatkan, GlassTENG mencapai akurasi keseluruhan sebesar 93,8 persen. Untuk gerakan tertentu, sistem mengenali aktivitas mengetukkan gigi dengan ketepatan 99 persen. Sementara itu, pendeteksian rahang yang dikatupkan mencapai ketepatan 96 persen. Hasil pengukuran ini memperlihatkan potensi penggunaan sinyal mekanis untuk klasifikasi perilaku. Kendati akurasinya cukup tinggi, pengujian dengan jumlah peserta terbatas belum membuktikan kinerja pada seluruh populasi. Dengan mempertimbangkan hal tersebut, uji tambahan penting untuk memastikan konsistensi performa.

Potensi Kacamata Pintar Tanpa Baterai untuk Pemantauan Kesehatan

Manfaat jangka panjang yang menarik dari GlassTENG adalah pengamatan aktivitas wajah dalam rutinitas sehari-hari. Dalam kemungkinan penggunaan mendatang, perangkat dapat membantu mencatat pola gerakan rahang. Perilaku mengatupkan rahang dapat berkaitan dengan bruxism, yaitu kebiasaan mengepalkan maupun menggesekkan gigi tanpa disadari. Jika kemampuan pemantauan ditingkatkan, perangkat dapat dirancang untuk membantu pengguna menyadari aktivitas rahangnya. Meskipun peluang ini menarik, GlassTENG belum dapat dianggap sebagai alat diagnosis medis.

Tidak hanya berpotensi mengenali kebiasaan mengatupkan gigi, GlassTENG dapat dikembangkan untuk memantau aktivitas makan, kelelahan, dan sinyal kardiovaskular. Sistem pembacaan gerakan mata berpotensi digunakan sebagai indikator tambahan dalam pemantauan kondisi pengguna. Dalam aspek pemantauan pembuluh darah, sensor pada area hidung dan pelipis dapat menangkap respons dari getaran pembuluh darah. Informasi tersebut dapat mendukung penelitian pemantauan kesehatan noninvasif. Jika teknologi ini terus disempurnakan, kacamata sehari-hari dapat memiliki fungsi pengindraan tambahan. Perlu ditekankan bahwa, penerapan klinis harus melalui proses validasi khusus.

Kesimpulan: Teknologi GlassTENG Membuka Era Baru Kacamata Pintar Hemat Energi

Pengembangan GlassTENG menunjukkan kemajuan menarik dalam penelitian sensor elektronik berdaya sangat rendah. Dengan menggunakan triboelectric nanogenerator, aktivitas alami pengguna mampu menjadi sumber energi pengindraan tanpa memerlukan baterai pada komponen pengindra utama. Hasil pengujian terhadap 20 peserta memperlihatkan kemampuan membedakan enam aktivitas dengan akurasi 93,8 persen. Temuan ini menjadi langkah awal menuju sistem wearable yang semakin efisien. Meskipun perangkat belum menjadi produk konsumen massal, GlassTENG menggambarkan peluang perangkat elektronik dengan kebutuhan baterai lebih rendah. Menurut Anda, seberapa bermanfaat sensor kesehatan yang terintegrasi pada kacamata? Silakan bagikan pendapat Anda agar pembahasan tentang inovasi sensor kesehatan menjadi lebih bermanfaat.

Related Articles

Back to top button